Thaghut dan Ansharnya

Iman seseorang tidak akan syah sampai dia kafir terhadap thoghut, Allah ta’aalaa berfirman :
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
Barangsiapa yang Kafir ( ingkar) kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat… (QS. Al Baqoroh : 256)
Ayat ini merupakan tafsir dari syahadat Laa Ilaha Illalloh yang berisi An Nafyi (peniadaan) dan Itsbat (penetapan).
An Nafyu maknanya : Peniadaan uluhiyyah dari setiap yang diibadahi selain Allah, dan seorang hamba merealisasikan dengan :
- meyakini kebathilan beribadah kepada selain Alloh
- meninggalkan peribadatan macam ini
- Membencinya
- mengkafirkan pelakunya
- Memusuhi mereka.
Inilah yang dimaksud dengan al kufru bith thaghut (kafir terhadap thoghut),serta inilah tatacaranya sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
Sedangkan Al Itsbat maknanya adalah : penetapan uluhiyyah bagi Allah ta'ala semata dengan menunjukkan seluruh macam-macam ibadah hanya kepada Alloh ta'ala saja. Dan inilah yang dimaksud Iman kepada Alloh ta'ala dalam ayat tadi.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, dan firmanNYA :
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
“…barangsiapa yang kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…” (QS. Al Baqoroh : 256)
yaitu orang yang melepaskan andad (tandingan), berhala dan apa-apa yang diajakkan oleh syaithon berupa peribadatan setiap sesuatu yang disembah selain Alloh, serta mentauhidkan Allah, dimana ia beribadah hanya kepadaNya saja serta bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Alloh,
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
…maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat…
yaitu ia telah tguh pada urusannya dan istiqamah diatas jalan yang utama dan jalan yang lurus.
Kemudian Ibnu Katsir, menukil dari ‘Umar Bin Khattab bahwasannya thoghut itu adalah syaithan. Dan Ibnu Katsir berkata: makna ucapannya tentang Thaghut bahwa thoghut itu syaithan, adalah sangat kuat karena dia mencakup segala kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah seperti penyembahan berhala, berhakim kepadanya dan meminta pertolongan dengannya” (Tafsir Ibnu Katsiir, I/311), dan pada I / 512 Ibnu Katsir berkata sesungguhnya Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aaliyah, Mujahid, ‘Atho’, ‘Ikrimah, Sa’id bin Zubair, Asy Sya’biy, Al Hasan, Adl Dlohak, As Sudiy berkata dengan pendapat Umar.
Ibnu Katsir menukil dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa para thoghut itu adalah dukun-dukun yang mana syaitan turun kepada mereka.
Dan dia menukil juga dari Mujahid bahwasannya thoghut itu adalah syaitan dalam bentuk manusia yang mana mereka berhakim kepadanya sedankan dia itu pemegang urusan mereka.
Dan beliau menukil dari Imam Malik bahwa thoghut itu adalah setiap yang diibadahi selain Allah Azza wa Jalla.
Dan dalam menafsirkan firman Alloh Ta’ala yang berbunyi:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS. An Nisa’ : 60)
Ibnu Katsir berkata:”Ayat ini lebih umum dari semua itu, karena ia mencela orang yang berpaling dari Al-kitab dan As-Sunnah dan berhukum kepada selain keduanya berupa kebatilan. Dan inilah yang dimaksud dengan thoghut itu disini. (Tafsir Ibnu Katsir, I / 519)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ”Thoghut adalah segala sesuatu yang dilampoi batasnya oleh seorang hamba baik yang diibadati atau ditaati. Thaghut setiap kaum adalah orang yang amana mereka berhakuim kepada selain Allah dan RasulNya, atau mereka mengibadatainya selain Allah atau mereka mengikutinya tanpa bashirah (penerang) dari Allah atau mereka mentaati dalam apa yang tida mereka ketahui bahwa itu adalah ketaatan kepada Allah. Inilah Thoghut -thoghut dunia, bila engkau mengamatinya dan mengamati keadaan keadaan manusia bersamanya maka engkau melihat mayoritas mereka berpaling dari menyembah Allah kepada menyembah Thaghut dan dari berhakim kepada Allah dan Rasulnya kepada berhakim kepada thaghut serta dari mentaati Alloh serta mengikuti RosulNya menjadi mentaati thoghut serta mengikutinya”. (I’lamu Al Muwaqqi’in, I / 50).
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata: ”Thoghut itu luas : setiiap yang diibadati selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu baik yang diibadati atau diikuti atau ditaati bukan ada ketaatan terhadap Allah dan RasulNya maka ia adalah thoghut. Dan thoghut itu banyak sedangkan pimpinan mereka ada lima yaitu :
Pertama: Syaitan, yang mengajak beribadah kepada selain Alloh. Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala :
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.(QS. Yasin : 60)
Kedua: Penguasa yang aniaya, yang merubah ketentuan-ketentuan Alloh ta'a'a, dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa’: 60)
Ketiga: Yang memutuskan perkara (hukum) dengan selain apa yang telah Alloh turunkan, dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maa-idah : 44)
Keempat: Yang mengaku mengetahui hal-hal yang ghoib, dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala :
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rosul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al Jin : 26-27)
Dan Alloh ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Al An’am : 59)
Kelima: Yang diibadahi selain Alloh sedang ia ridha dengan peribadatan itu, dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Alloh", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. Al Anbiya’ : 29)
Dinukil dari risalah Makna at-Thoghut Wa Ru-us Anwa’ihi tulisan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab yang terdapat dalam kitab Majmu’ah At Tauhid terbitan Maktabah Ar Riyadh Al Haditsah halaman 260.
Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy berkata dalam mendefinisikan thoghut: "Yang bisa disimpulkan dari ucapan salaf Radiyallahu 'anhum adalah Bahwa thaghut adalah setiap yang memalingkan seorang hamba dan menghalanginya dari ibadah kepada Allah, pengikhlasan, ketundukan serta ketaatan kepada Allah dan RasulNya baik dalam hal itu syaithan dari bangsa Jin maupun manusia, pepohonan, bebatuan dan yang lainnya. Dan masuk dalam hal itu tanpa diragukan : penerapan undang-undang diluar islam, ajaran ajarannya dan yang lainnya berupa apa yang diletakkan oleh manusia untuk memutuskan dengannya darah, kemaluan dan harta. Dan agar dengannya dia mengugurkan ajaran ajaran Allah berupa penegakkan hudud, pengharaman riba,zina, khamr dan yang lainnya yaitu undang undang buatan (qawanin) ini menghalalkannya dan melindunginya dengan kekuasaannya dan para pelaksananya. Qawanin itu sendiri adalah thoghut, orang orang yang membuatnya dan mensosialisasikannya adalah thaghut juga. Dan serupa dengannay setiap buku (kitab) yang diletakkan akal manusia dalam rangka memalingka ndari al-haq yan gdibawa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam baik itu sengaja atau tidak sengaja dari pembuatnya, maka ia adalah thaghut" (catatan kaki hal 287 dalam kitab Fathul Majid, karya Syaikh ‘Abdur Rohman bin Hasan Alu Asy syaikh, terbitan Darul Fikri, tahun 1399 H).
Syaikh Sulaiman ibnu Sahman An Najdiy berkata: ”Thoghut itu ada tiga macam yaitu Thoghut hukum, Thoghut ibadah serta Thoghut tha'at dan mutaba'ah (ketaatan dan keteladanan).” (Ad Duror As Suniyyah, juz 8 hal 272)
Dan saya bisa ringkas dari uraian yang lalu serta saya katakan : "sesungguhnya ucapan yang paling mencakup tentang makna Thoghut adalah ucapan orang yang mengatakan bahwa thoghut adalah setiap yang diibadahi selain Allah -dan ini adalah perkataan Imam Malik- dan ucapan orang yang mengatakan bahwa thoghut itulah Syaithan -dan ini adalah ucapan jumhur shahabat dan tabi'in-. Sedangkan selain dari dua pendapat ini adalah cabang dari keduanya. Dan kedua pendapat ini kembali kepada satu inti yang memiliki dhahir dan hakikat. Orang yang melihat kepada dhahir maka ia berkata : Thoghut adalah setiap yang diibadati selain Allah. Dan orang yang melihat kepada hakikat akan mengatakan : Thoghut adalah syaithan, alasannya adalah dikarenakan syaithanlah yang mengajak kepada peribadatan selain Allah, sebagaimana ialah yang mengajak kepada setiap kekafiran. Allah Ta'ala berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا
Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma`siat dengan sungguh-sungguh? (QS. Maryam : 83)
Setiap orang yang kafir dan setiap orang yang beribadah kepada selain Alloh ada lah dengan sebab penghiasan syaithan, dan setiap orang yang beribadah kepada selain Alloh maka sebenarnya dia itu hanyalah menyembah kepada syaithan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. (QS. Yasin : 60)
Dan Allah ta'ala berfirman tentang Ibrahim alaihis salam :
يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan… (QS. Maryam : 44)
..... baca selanjutnya....

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan kasih komentar