Di Balik Seruan Anti Jihad

Oleh :Tengku Azhar Lc.

( Mahasiswa Pascasarjana International Class Arabic Language – UMS )


Prolog

Phobi terhadap jihad bukanlah barang langka yang sulit di temukan di negara ini khususnya. Sejak masa Rasulullah SAW, orang - orang yang telah anti terhadap Jihad telah ada bahkan mereka berusaha untuk memadamkan bara api jihad tersebut. Bukan hanya orang kafir, orang muslimpun masih banyak yang phobi, bahkan ada sebagian kelompok Islam yang menisbahkan kepada salaf juga anti dan phobi terhadap jihad.

Sebagi contoh, seseorang pernah bercerita kepada penulis bahwa dia pernah bertemu dengan seseorang yang bercerita kalau kepalanya seketika pusing ( sakit ) ketika mendengarkan kajian yang membahas tentang jihad dan menyebut orang -orqang kafir, Yahudi, dan Nashrani.

Ada juga yang menceritakan bahwa pada sebuah masjid, jika seorang ustadz membahas tentang jihad, menyebut – nyebut orang kafir serta hal – hal yang berkaitan dengannya, takmir masjid langsung mengganti pengeras suara, yang tadinya dengan pengeras suara luar, menjadi pengeras suara yang hanya didengar di dalam masjid saja. Hal itu muncul tidak lain karena sebagian kaum muslimin pada hari ini phobi ( anti ) terhadap masalah jihad dan hal – hal yang berkaitan dengannya.

Untuk itu, kali ini kita akan mencoba menguak rahasia apa di balik propaganda anti jihad yang di serukan oleh orang – orang kafir dan munafikin.

Dari mana bermula ?

Gerakan jihad phobi sebenarnya sudah lama, hanya saja semakin menemukan momentumnya saja saat “ Tragedi Kemanusiaan “ 11 September 2001 M, berlanjut kepelosok Legian Bali, dan akhirnya “ nyantol “ di tengah metropolitan Jakarta.

Bom Bali, Bom Mariot, Bom Kuningan, bagi bangsa ini, dan bangsa – bangsa di asia Tenggara, boleh jadi lebih berkesan dari WTC atau Pentagon yang merubah peta ekonomi, politik dan militer dunia tersebut. Bukan karena materi dan non materi ketiga pemboman tersebut lebih besar. Bukan karena ketiga tragedi tersebut memberi alasan kepada intelejen di lingkungan Polri atau TNI untuk kembali memperagakan pelanggaran HAM, kebebasan dan tindakan represif kepada rakyat sendiri. Pun, bukan karena ketiga kasus tersebut menewaskan beberapa warga sipil pribumi, alias bangsa melayu. Jadi ? Lantas ?

Seluruh media masa dan elektronik, pasca ketiga kasus bom di tanah air tersebut seia - sekata ramai – ramai memberitakan : Kutuk dengan keras….basmi sampai tak berbekas…usut sampai tuntas !!! Terakhir mari rayakan kenaikan oplah dan tiras !!! jangan lagi tanyakan unsur obyektivitas, validitas data, bothside dan kode etik jurnalistik lainnya!

Lain lagi dengan rezim penguasa. Semua jajaran dan lembaga, sibuk menonjolkan perannya. Departemen politik dan keamanan, Departemen Pertahanan, Departemen Kehakiman dan HAM, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pariwisata, Badan Intelejen Negara ( BIN ), POLRI dan TNI ramai – ramai mengeluarkan jurusnya demi meraup laba dan simpati internasioal. ( Sulaiman Ibnu Walid Damanhudi : 3-4 )

Dari sinilah bermula “ tragedi yang menyesakkan dada dan hati “ tersebut, dengan di bungkus kalimat indah tapi dalamnya penuh dengan kotoran : “ Pelanggaran HAM “, “ Teroris “, “ Fundamentalis “, dan seabrek kalimat – kalimat lainnya, mereka pada hakikatnya ingin memadamkan cahaya Allah di muka bumi ini.

Allah SWT berfirman,

“ Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut ( tipu daya ) mereka, tetapi Allah ( justru ) menyempurnakan cahaya_Nya, walau orang – orang kafir membencinya “. ( QS. Ash Shaf : 8 )

Berita Anti ( Benci ) Jihad Dari Al Qur’an Dan As Sunnah

Di dalam Al Qur’an Allah SWT telah menjelaskan dalam banyak ayat bahwa jihad adalah suatu kewajiban yang tidak di sukai oleh banyak manusia terutama orang – orang munafikin.

Firman Alla SWT :

“ Di wajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi ( pula ) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. ( QS. Al Baqarah : 216 )

Juga Firman_Nya :

“ Tidakkah kamu perhatikan orang – orang yang di katakan kepada mereka : “ Tahanlah tanganmu ( dari berperang ), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah di wajibkan kepada mereka berperang, tiba – tiba sebahagian dari mereka ( golongan munafik ) takut kepada manusia ( musuh ), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata : “ Ya Rabb kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami ? mengapa tidak engkau tangguhkan ( kewajiban berperang ) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi ?” Katakanlah : “ Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang – orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan di aniaya sedikitpun.” ( QS. An Nisa’:77 )

Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam An Nasa’I dari Salamah bin Nufail Al Kindy ra ia berkata, “ Suatu hari aku duduk – duduk bersama Rasulullah SAW, kemudian datanglah seorang laki – laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah orang-orang telah menambatkan kudanya dan menggantungkan senjata – senjatanya, dan mereka berkata ‘ Tidak ada lagi jihad, perang telah usai, ‘maka Rasulullah menghadap kearah orang tersebut seraya berkata ‘ Mereka telah berdusta, sekarang telah datang waktu untuk berjihad dan berperang. Dan akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang terus berperang di atas al haq, Allah SWT akan menyesatkan hati – hati sebagian orang karena mereka, dan memberi rezeki kepada mereka ( orang – orang yang berjihad ) dari orang – orang yang tersesat tersebut ( ghanimah ). Begitulah hingga tegaknya hari kiamat dan sampai datangnya janji Allah. Kebaikan akan senantiasa tertambat pada ubun – ubun kuda perang hingga datangnya hari kiamat.” ( Shalih Sunan An Nasa’I : 3333 )

Kenapa muncul propaganda anti jihad ?

Syaikh Abu Mus’ab As Suury dalam kitabnya yang berjudul “ Dakwatul Muqawwamah Al Islamiyah Al ‘Alamiyyah “ menyebutkan minimal ada tiga hal yang melatarbelakangi lahirnya tandhim jihad, dan jika ketiga hal tersebut hilang maka lahirlah propaganda anti jihad.

1. Pemahaman terhadap Syumuliyyah addien ( hakikat Islam yang menyeluruh ).

Jika kaum muslimin hanya memahami Islam secara parsial, atau mengambil ajaran islam sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh hawa nafsunya maka akan lahirlah sikap antipati terhadap sebagian ajaran Islam yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Bahkan ia akan berusaha untuk menafsirkannya dengan berbagi tafsiran yang sesuai dengan kehendak dan hawa nafsunya, atau ia berusaha memeranginya dengan lisan, tulisan dan usaha – usaha lainnya.

Maka tidak heran jika ada seorang doktor dari sebuah perguruan tinggi Islam di Makassar yang menginginkan AlQuran edisi revisi, di mana ayat – ayat Al Quran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya dan hawa nafsu orang – orang yang bersamanya, dan ayat – ayat Al Qur’an yang melanggar HAM harus di hapus dari AlQuran. Dan ia berkesimpulan bahwa ayat – ayat Al Qur’an yang pertama sekali harus di hapus dari Al Quran adalah ayatussaif ( ayat – ayat pedang ) dan ayatul jihad wal qital ( ayat – ayat yang berkaitan dengan jihad dan perang ). Karena ayat – ayat tersebut rentan menimbukan kekacauan, aksi teror, pelanggaran HAM, dan lainnya.

2. Iradatul Qital ( keinginan untuk berperang ) .
Keinginan untuk berangkat berjihad dan berperang merupakan asas utama lahirnya pergerakan tandhim jihad. Karena mustahil jihad akan terlaksana sekalipun kaum muslimin telah memahami hukum – hukum, keutamaan – keutamaan, dan adab – adab jihad jika tidak ada dalam hati mereka keinginan untuk berangkat berperang dan berjihad.
Allah SWT menggambarkan keadaan orang – orang munafik dalam Al Qur’an sebagai berikut : “ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan di katakan kepada mereka : “ tinggalah kamu bersama orang – orang yang tinggal itu.” (QS. At Taubah:46) .
Lemahnya keinginan untuk berangkat berjihad karena di dorong beberapa faktor, dan faktor yang paling besar sebagaimana di sebutkan oleh DR. Majid ‘Arsaan Al Kilani dalam disertasi doktoralnya yang berjudul “ Hakazda Zhahara Jiilu Salahiddin Al Ayyubi “ adalah kecintaan terhadap dunia dan kenikmatan – kenikmatannya. Hal ini sebagaimana yang tersurat dalam hadits Rasulullah SAW tentang penyakit wahn yang akan menimpa kaum muslimin, yaitu : “ Cinta dunia dan takut mati “

3. Aqidatul Jihad ( ideologi Jihad ) .
Sebuah ideologi akan melahirkan sebuah amal. Dan amal tersusun dari dua syarat asasi, yaitu: ikhlas semata – mata karena Allah, dan sesuai dengan sunnah dan petunjuk Rasulullah SAW. Maka aqidatul jihad akan melahirkan amal jihad islami yang shahih, semata – mata karena Allah SWT dan bukan yang lainnya. Dan siapa yang berperang karena ingin menjadikan kalimat Allah itu mulia dan tinggi maka dia itu yang berada di jalan Allah ( fisabilillah ).
Dengan aqidah jihad, seseorang akan mengetahui hukum – hukum, adab – adab, dan konsekuensi – konsekuensi jihad yang akan di hadapinya. Maka lahirlah amaliyah jihad yang di lakukan berdasarkan bashirah ( ilmu ), dan bayyinah ( penjelasan ) yang benar dari Allah SWT dan agama_Nya, bukan dengan serampangan, asal – asalan, tanpa pemikiran yang matang, dan tujuan yang jelas. .
Allah SWT berfirman : :
“ Hai orang – orang yang beriman, apabila kamu pergi ( berperang ) di jalan Allah, maka telitilah dan jangan kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “ salam “ kepadamu : “ Kamu bukan seorang mukmin “ ( lalu kamu membunuhnya ), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatnya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. An Nisa’:96 )

Kesimpulannya

Dari apa yang telah kami paparkan di atas, pada hakikatnya propaganda anti dan beci terhadap amaliyah jihad telah ada sejak masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya, sebagaimana telah di kabarkan oleh Allah SWT dalam AlQur’an dan Rasul_Nya dalam hadits – haditsnya, dan itu terus berlanjut hingga hari ini bahkan hingga hari kiamat.

Lahirnya sifat – sifat tersebut karena di dorong faktor – faktor duniawi dan hawa nafsu yang telah mengakar dalam diri mereka. Sehingga terkadang logika yang mereka gunakan meleset jauh dan tidak sampai pada sasarannya. Maka muncullah statemen – statemen tidak waras dan ngawur, yang jauh dari logika yang sharih apalagi dari nash yang shahih. Semoga kita bisa mengambil manfaat dan pelajaran yang besar dari seruan – seruan anti jihad ini, karena semuanya bermuara kepada kehidupan duniawi dan hawa nafsu yang tercela.

Wallahu A’lambishshowab.

Sumber :An Najah/edisi41/th.3-shafar 1429 H/feb.2008 M hal.37-39





siapa ulil amri itu?

thaghut dan anshornya

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan kasih komentar